Saturday, June 5, 2010

Jangan Sobek Kalendernya

Mao Mao nilai-nilai ujian hariannya sangat jelek. Karena itu, ketika ujian akhir semesteran sudah di depan mata, ia tak bisa tenang. Dia merasa sangat tidak siap sehingga ketakutan menghadapi ujian.

Hingga, pada saat hari ujian tiba, Mao Mao terlihat sedang duduk terdiam di depan kalender. Wajahnya menatap kalender itu dalam-dalam. Saat disapa ibunya untuk makan pagi, ia hanya diam saja.

Kelakuan aneh Mao Mao mengundang tanya ibunya. Maka, ibunya pun menyelidik, mencari tahu mengapa anaknya terdiam di depan kalender. Saat itu, sang ibu melihat kalender ternyata belum disobek tanggalnya, masih menunjukkan tanggal kemarin. Saat ibu akan menyobek tanggal kalender untuk menyesuaikan tanggal, Mao Mao buru-buru mencegah. "Mama tidak boleh menyobek kalender ini."

Ibu pun bertanya, "Loh, bukannya ini tanggalnya sudah berganti?"

Mao Mao spontan menjawab, "Kalau Mama sobek, aku harus ujian!"

Tidak Banyak Makan

Penulis : Radinal Mukhtar Harahap

Alkisah, di sebuah kos-kosan mahasiswa, tinggallah dua orang mahasiswa. Namanya Imron dan Hadi. Imron berbadan gemuk sedangkan Hadi berbadan kurus. Untuk menghemat biaya makan, mereka berdua sepakat untuk membeli peralatan masak. Mereka membuat jadwal memasak. Dan jadwal itu mereka patuhi bersama.

Suatu hari, saat mereka makan bersama.

Hadi: Kamu itu gemuk. Tapi selama ini saya lihat makannya kok sedikit?

Imron: Emang kalau makan aku selalu sedikit kok.. (Ujar imron santai)

Hadi: Berarti kamu banyak ngemil ya?

Imron: Ah.. ga' juga.. sama seperti kamu, saya jarang ngemil kok...

Hadi bertambah bingung.

Hadi: Terus kenapa kamu bisa gemuk sedangkan aku kurus? toh, makan kita sama-sama sedikit dan ngemilnya juga sedikit..

Imron: Kamu mau tau rahasianya?

Hadi: Yup...

Imron: Tapi jangan bilang siapa-siapa ya?

Hadi tambah penasaran: Iya.. tolong kasih tahu saya rahasianya..

Imron: Saya itu makannya sedikit. Tapi nambahnya yang banyak....

Anak Mengajari Guru

Seorang anak baru saja pulang di hari pertama ia masuk sekolah. Ketika berjumpa dengan ibunya, si ibu pun menyapa ingin tahu pengalaman pertamanya masuk sekolah. "Anakku, hari ini gurunya mengajari engkau apa?"

Dengan polos si anak menjawab, "Guruku tidak memberi pelajaran apa-apa. Malah, aku yang mengajari guru."

Mendengar jawaban aneh itu, ibu pun bertanya, "Kok bisa?"

"Iya, Bu. Guru malah bertanya kepadaku kok. Satu ditambah dua berapa? Aku jawab saja tiga. Jadi, aku lebih pintar dari gurunya kan..."

Fairus Dan Kucing

Fairus pada dasarnya tidak menyukai kucing. Ia semakin benci ketika istrinya memelihara seekor kucing. Fairus merasa istrinya jadi lebih perhatian pada kucingnya daripada dirinya. Suatu hari Fairus memutuskan untuk membuang kucing tersebut secara diam-diam.

Ketika istrinya sedang mandi, ia pamit pergi keluar sebentar dan dibawanya si kucing. Setelah Fairus bermobil sekitar 10 km dari rumah, ia pun membuang kucing tersebut. Anehnya ketika ia sampai di rumah, si kucing sudah ada di sana. Fairus heran bercampur berang.

Sore harinya ia pergi lagi. Kali ini si kucing dibuangnya lebih jauh lagi. Namun tetap saja, sesampainya di rumah, kucing istrinya tersebut telah berada di sana. Fairus berusaha membuangnya lebih jauh lagi, lebih jauh lagi, tapi tetap saja si kucing bisa kembali ke rumah mendahului dirinya.

Suatu hari ia tidak saja membawa si kucing pergi jauh, tapi juga berputar-putar dulu. Fairus belok kanan, belok kiri, belok kanan, belok kanan lagi, berputar-putar sebelum akhirnya membuang kucing yang dibawanya.

Beberapa jam kemudian ia menelepon istrinya :
"Tik, kucingmu ada di rumah? " Tanya Fairus.

"Ada, kenapa? Tumben nanya di si Manis segala," jawab istrinya agak heran.

"Panggil dia Tik, aku mau tanya arah pulang. Aku kesasaar...! "

Ayah Yang Beruntung

Suatu ketika, seorang anak berlari menuju ke ayahnya. Ia sehabis pulang dari sekolah mengambil hasil ujiannya.

Ayah : "Anakku, bagaimana hasil ujiannya?"
Anak : "Hai, baik Yah. Ayah pasti senang karena ayah akan menjadi ayah yang beruntung..."
Ayah : "Beruntung bagaimana? Kok bisa, kamu mengatakan seperti itu? Apa hubungannya dengan nilai ujianmu?"
Anak : "Iya, Ayah tidak perlu mengeluarkan untuk membelikan buku baru buatku tahun ini. Aku tidak naik kelas...."

Ayah : "???"

Beda

Dua orang pemuda sedang menggembalakan sapi mereka. Sambil menunggui sapi-sapi mereka merumput, keduanya pun berbincang-bincang di bawah pohon.

Pemuda 1 : Hm, kalau dilihat dari depan, sapi kita tidak ada bedanya yah?
Pemuda 2 : Betul juga. Jangan-jangan nanti bisa tertukar.
Pemuda 1 : Aku ada ide. Bagaimana kalau kau potong saja sebelah telinga sapimu? Jadi kita bisa bedakan.
Pemuda 2 : Ide bagus.

Akhirnya mereka memotong sebelah telinga sapi milik Pemuda 2.

Pemuda 1: Wah... akhirnya... sapi kita tidak akan pernah tertukar.
Pemuda 2: Benar. Tapi..... kalau dari belakang kok tetap sama yah?
Pemuda 1: Benar juga. Jadi bagaimana?
Pemuda 2: Begini, karena sapiku sudah dipotong telinganya, bagaimana kalau sekarang sapimu yang dipotong ekornya?
Pemuda 1: Setuju !!

Dan mereka pun memotong ekor sapi milik Pemuda 1.

Pemuda 1: Nah, akhirnya sapi kita benar-benar tidak akan pernah tertukar.
Pemuda 2: Iya. Eh, bagaimana kalau sekarang kita tes dulu. Tuh, ada anak SD lewat. Kalau anak SD saja bisa membedakan, apalagi orang dewasa kan?
Pemuda 1: Benar juga. Ayo kita panggil anak itu.

Pemuda 1: Nak, bisa tidak kau membedakan kedua sapi itu?
Anak SD : Jelas saja bisa. Yang satu warnanya putih, yang satu warnanya coklat.